Photos of black labradors

Black labrador puppy

Black labrador puppy

License

How to use my images

Adult black labrador

Adult black labrador

License

How to use my images

Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

TRADISI SURAN

 PERINGATAN SATU SURO


Suran adalah tradisi yang dilaksanakan pada malam tanggal 1 Sura/Muharam. Tradisi Suran merupakan tradisi warisan yang selalu dilaksanakan setiap tahun. Ukhuwah Islamiyah adalah persaudaraan antar sesama muslim. Penelitian ini bertujuan mendeskripsikan pelaksanaan dan makna dari tradisi suran (kegiatan malam satu sura)



Tradisi suran dimaknai sebagai tradisi untuk memperingati tahun baru Islam, kedua, tradisi Suran dimaknai sebagai tradisi untuk meminta keselamatan, karena tradisi suran mengandung cerita mistis, maka dari itu harus diperingati agar masyarakat terhindar dari bala. ketiga, tradisi Suran dimaknai sebagai tradisi untuk mengenang kisah-kisah para nabi yang terjadi di bulan suro/Muharram. Terakhir, Suran dimaknai sebagai alat untuk mempererat tali persaudaraan sesama masyarakat. ajang memperkuat silaturahmi antar sesama muslim 

Tradisi malam satu Suro bermula saat zaman Sultan Agung. Saat itu, masyarakat umumnya mengikuti sistem penanggalan tahun Saka yang diwariskan dari tradisi Hindu. Sementara Kesultanan Mataram Islam sudah menggunakan sistem kalender Hijriah (Islam). Sultan Agung yang ingin memperluas ajaran Islam di Tanah Jawa berinisiatif memadukan kalender Saka dengan kalender Hijriah menjadi kalender Jawa.

Penyatuan kalender ini dimulai sejak Jumat Legi bulan Jumadil Akhir tahun 1555 Saka atau 8 Juli 1633 Masehi. Satu Suro adalah hari pertama dalam kalender Jawa di bulan Suro, bertepatan dengan 1 Muharram dalam kalender Hijriyah

Menurut Muhammad Solikhin dalam Misteri Bulan Suro, Perspektif Islam Jawa, kata “Suro” berasal dari kata “Asyura” dalam bahasa Arab yang berarti “sepuluh”. Kata Asyura di sini merujuk pada tanggal 10 bulan Muharam, yang berkaitan dengan peristiwa wafatnya Sayyidina Husein, cucu Nabi Muhammad di Karbala (sekarang masuk Irak).

“Dari Sultan Agung inilah kemudian pola peringatan tahun Hijriah dilaksanakan secara resmi oleh negara, dan diikuti seluruh masyarakat Jawa. Berbagai ritual perayaan Muharram dan Asyura di Indonesia terus lestari sampai sekarang berkat jasa Sultan Agung,” tulis Muhammad Solikhin.

Hingga saat ini, setiap tahunnya tradisi malam satu Suro selalu diadakan oleh masyarakat Jawa. Satu suro biasanya diperingati pada malam hari setelah magrib pada hari sebelum. Sebab, pergantian hari Jawa dimulai pada saat matahari terbenam dari hari sebelumnya, bukan pada tengah malam.

Beragam tradisi seringkali digelar untuk menyambut bulan Suro seperti Tradisi malam satu Suro menitik beratkan pada ketentraman batin dan keselamatan. Karenanya, pada malam satu Suro biasanya selalu diselingi dengan ritual pembacaan doa dari semua umat yang hadir merayakannya. Hal ini bertujuan untuk mendapatkan berkah dan menangkal datangnya marabahaya.


Ada banyak cara dilakukan masyarakat Jawa untuk menyambut satu Suro. Tapi umumnya melakukan “laku prihatin” untuk tidak tidur semalaman. Aktivitas yang dilakukan adalah tirakatan, wiridan, bersholawat ,sholat malam atau momen untuk lebih mendekatkan diri kepada Tuhan YME. Tradisi Suran, peringatan 1 Suro ialah identik dengan slametan suran berupa ingkung ataupun taradisi suran potong kambing yang ngropeh (memasak) ialah kebalikannya dari pada umumnya yaitu kambing yang digunakan untuk slametan suran di masak oleh kaum laki-laki di lingkungan setempat. Bagaimana dengan tradisi ditempat sauadara, berbeda atau sama ya?

Sepanjang bulan Suro masyarakat Jawa meyakini untuk terus bersikap eling (ingat) dan waspada. Eling disini memiliki arti manusia harus tetap ingat siapa dirinya dan di mana kedudukannya sebagai ciptaan Tuhan. Sementara waspada berarti manusia juga harus terjaga dan waspada dari godaan yang menyesatkan.  * berbagai sumber

Post a Comment for "TRADISI SURAN"